Zona Nyaman tak Harus Ditinggalkan

Afit

Business man hand holding red scissors and cutting white paper with the text Comfort Zone, change word to Zone. challenge, positive thinking and success concept

Nope, artikel ini bukan untuk menyuruh meninggalkan zona nyaman. Aku suka zona nyaman, mungkin juga sebagian kalian.

Zona nyaman tak perlu ditinggalkan. Karena untuk menuju kesana, diperlukan usaha keras dan waktu yang tidak singkat.

Ini adalah ceritaku, terlalu lama dimabuk oleh zona nyaman.

Zona nyamanku sebagai content creator berhenti pada media blog. Saat itu, aku sudah sangat berkecukupan mendapatkan income dari sebuah blog.

Bahkan saat itu dengan “pongah”, aku menetapkan diriku sebagai seorang professional blogger. Bahkan sampai saat ini, aku selalu menyebut diriku blogger, bukan content creator.

Anehnya, rasa pongah itu terjadi saat income ku baru beberapa digit saja, belum mencapai nilai miliaran (sekarang juga belum sih)

“Ilmu pengetahuan bisa membuatmu militan, tapi pengalaman akan membuatmu toleran.”

Rifqi Alfian

Aku juga ikut serta kedalam arus “pembenci” pernyataan Roy Suryo yang mengatakan bahwa “blog adalah tren sesaat”.

Saat itu, aku merasa blog akan abadi, hype nya tidak akan turun.

Karena rasa “nyaman” itu, aku abai ketika ada platform-platform baru yang bermunculan. Twitter, Instagram dan YouTube adalah platform yang sempat kutolak keberadaannya.

Meskipun saat itu aku merasa bahwa ketiga platform itu akan menjadi corong marketing yang asik. Ada beberapa efek zona nyaman yang aku rasakan, yaitu:

Malas Belajar

Di suatu waktu, aku memiliki pendapatan yang sangat cukup sebagai seorang Blogger. Dengan hanya bekerja maksimal 30 menit per hari, aku bisa mendapatkan puluhan juta per bulan.

Saat itu, angka tersebut sangat banyak bagiku. Terlebih aku tinggal di Jogja, daerah yang memiliki biaya hidup rendah (waktu itu).

Bayangkan saja, aku bisa mendapatkan menu makanan satu porsi ayam, sayur plus es teh manis hanya dengan harga Rp 8000,- saja!

Jadi kondisinya adalah, aku hanya harus bekerja selama 30 menit per hari maksimal, tapi berpenghasilan puluhan juta per bulan. Dan, aku masih sangat muda. Jadilah hari-hari ku hanya dipenuhi dengan hura-hura dan kemalasan.

Ga bisa mikir

Ini adalah efek buruk dari malas belajar. Otak menjadi “beku” untuk mempelajari sesuatu yang baru.

Karena terbiasa melakukan hal monoton, maka ketika dihadapkan dengan hal-hal baru, otak tak bisa digunakan untuk berfikir dengan optimal. Otak sudah terbiasa untuk “tidur”. Ini adalah hal fatal yang aku rasakan.

Saat badai mengusik zona nyaman, aku harus sadar untuk move on. Tapi karena terlalu lama otak ga digunakan untuk berfikir, maka proses move on ini berlangsung cukup lama.

Aku perlu waktu satu tahun untuk memanasi kembali otak yang sudah beku. Dan itu sungguh menjengkelkan.

Tidak ada target

Zona nyaman membuatku tidak memiliki target apapun, mengalir bagai air.

Tentu menyenangkan kita hidup bisa mengalir tanpa gangguan apapun. Everything is ok. Makan ga kurang, mau beli sesuatu yang diinginkan bisa dilakukan dll.

Terkesan kepenak? awalnya iya. Tapi setelah beberapa bulan, ada yang kurang dalam hidupku. Aku kehilangan arah.

Hal terparah Dan ada hal yang lebih parah yang tidak aku sadari, bahwa ternyata zona nyaman tidak berlangsung selamanya.

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment